Republika – Mulai tahun ini, Kementerian Agama (Kemenag) akan memberlakukan Kurikulum Islam Rahmatan Lil ‘Alamin pada lembaga pendidikan formal (madrasah dan perguruan tinggi Islam) dan pendidikan nonformal (pondok pesantren).

”Dengan perubahan kurikulum ini, diharapkan ada proses pembelajaran dan pemahaman Islam yang lebih baik serta tidak mengarah pada radikalisme dan ekstremisme, apalagi berujung pada aksi terorisme,” kata Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kemenag Kamaruddin Amin, seperti dilansir laman resmi Kemenag.

Kepada Republika, Kamaruddin juga menjelaskan tentang kurikulum ini. Menurutnya, Kurikulum Islam Rahmatan Lil ‘Alamin bukanlah hal baru. Ini merupakan bagian dari materi pengayaan yang ditambahkan pada Kurikulum 2013, baik di madrasah ibtidaiyah (MI), madrasah tsanawiyah (MTs,) dan madrasah aliyah (MA), serta pondok pesantren (ponpes).

“Ini merupakan bentuk improvisasi dan inovasi kami untuk meningkatkan mutu pengajaran agama yang toleran dan moderat,” ujar dia, Rabu (23/3).

Untuk melaksanakan kurikulum ini, lanjut Kamaruddin, nantinya guru-guru di madrasah akan diberikan pelatihan dan modul untuk diajarkan kepada siswa. Ia kembali menegaskan bahwa kurikulum ini merupakan bagian dari pendidikan multikultural dan upaya menangkal radikalisme.

”Jika selama ini murid madrasah dan ponpes tidak pernah tahu mengenai agama lain, seperti Kristen, Hindu, dan Buddha maka dengan pengayaan ini kami ingin memperkenalkan sejumlah ajaran agama agar mereka menghargai orang lain,” kata guru besar Ilmu Hadis Fakultas Adab dan Humaniora UIN Alauddin Makassar ini.

Meski demikian, kata dia, pengayaan ini bukan dimaksudkan untuk memperdalam agama lain, melainkan seputar hari raya dan fokus ajaran mereka. Dengan pengayaaan ini, diharapkan siswa madrasah dan santri ponpes memiliki toleransi dan pemahaman akan adanya hak yang sama sebagai warga negara.

Kamaruddin juga mengungkapkan, pihaknya sedang mengkaji kemungkinan menambah mata pelajaran baru untuk pendidikan multikultural.

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Pendidikan KH Abdullah Jaidi menyambut baik penerapan kurikulum ini. Ia menilai, tujuan utama kurikulum ini adalah agar Islam tidak disalahgunakan.

“Itu bertujuan agar jiwa dari Islam tidak disalahartikan, tidak disalahgunakan,” ujarnya kepada Republika, Rabu.

Salah satu bentuk penyalahgunaan Islam yang kerap terjadi, kata Jaidi, adalah dalam memahami ayat-ayat suci Alquran. Potongan-potongan ayat dalam Alquran terkadang sengaja disalahtafsirkan, sehingga menimbulkan pengertian yang tidak sesuai atau bahkan bertentangan dengan Islam itu sendiri.

Ia berharap, kurikulum ini dapat memotivasi anak didik untuk menerapkan ajaran Islam yang rahmatan lil ‘alamin ke dalam kehidupan sehari-hari.

Hadirnya Kurikulum Islam Rahmatan Lil ‘Alamin juga diapresiasi oleh pengamat pendidikan Islam Tutty Alawiyah. Ia mengaku senang kurikulum ini diterapkan dalam pendidikan di madrasah dan pesantren.

Islam, lanjut Tutty, sudah sejak lama sangat toleran terhadap lima agama lain yang diakui di Indonesia. Selain itu, Islam yang dikembangkan di Indonesia adalah Islam yang moderat. ”Sehingga, seharusnya seluruh umat memahami hal ini,” katanya.  rep: Ratna Ajeng Tejomukti

Kurikulum rahmatan lil alamin atau Kurikulum Islam Nusantara?

Leave a Reply

Ada yang ingin ditanyakan? Hubungi kami..

Kami di sini untuk memberikan informasi yang anda butuhkan mengenai sekolah kami. Jangan ragu hubungi kami.

Customer Support

Call Center

Online

Call Center

Assalaamu'alaikum, informasi apa yang ingin anda ketahui dari sekolah kami? 00.00
%d bloggers like this: